Plus Minus Bisnis Properti, Hingga Orang Sukses Berkat Bisnis Properti

Banyak sudah kalangan yang sudah membenarkan bawah Investasi Sektor Properti di Indonesia sudah menawarkan Potensi Keuntungan yang sangat besar. Potensi ini seringkali dibandingkan dengan negara Singapura, sebagai salah satu negara tetangga yang kaya akan Sektor Propertinya untuk menarik minat dari pembeli yang ada di Indonesia. Disini ada banyak perbedaan dalam Industri properti di kedua negara. Dimana dalam penyediaan Public Housing Singapura sudah jauh lebih maju. Demikian juga soal regulasi, lalu Bunga Bank dan hal lain yang menyangkut Industri Properti itu sendiri. Lalu ada juga beberapa Orang yang memang sukses berkat adanya bisnis Properti itu sendiri hingga sampai ke tahap Mancanegara. Memang benar sebagian pengusaha sudah memulai usahanya di negara orang bahkan mampu dalam memenangkan persaingan dan pada akhirnya mencapai kesuksesan itu sendiri. 

Plus Minus Properti di Indonesia 

Jakarta sudah menjadi kota dengan tingkat pertumbuhan harga Properti mewahnya yang tertinggi di dunia, yakni bisa mencapai 3,1% dari riset konsultan Properti Global Knight Frank Global Cities di tahun 2013 silam. Semnentara itu, dari pihak penyediaan hunian untuk kalangan menengah bawah sangat amat terbatas. 

Disini pihak Pemerintah juga sudah mengupayakan atas beberapa program untuk mengatasi hunian bagi kalangan tersebut. Misalnya saja pada tahun 2007 dengan adanya 1.000 Tower Rumah Susun sederhana milik ( Proyek Rusunami ) yang hanya akan memasok sebanyak 39.751 unit dan itupun sasarannya tidak tepat. Nah harga Rusunami yang dipatok Pemerintah rata-rata sekitaran Rp. 6 Juta/m kubik. Sementara untuk harga Apartemen Menengah dipatok dengan harga Rp. 15 Juta sampai 25 Juta untuk per meter Kubiknya. Sudah membuat program ini bisa diserbu kalangan berpunya maupun para Investor. Program Baru dari Pemerintah saat ini adalah pada pembangunan sejuta Rumah. 

Dari sektor perpajakan, untuk pembelian dari Properti Masyarakat dikenakan BPHTB 5% bagi penjual dan juga Pembeli, dengan pajak Pertambahan nilai PPN yang akan dikenakan satu kali saat transaksi namun dikenakan bagi masyarakat maupun lembaga membangun sendiri rumahnya. Adapun pajak untuk Properti Mewah atau PPnBM untuk rumah dengan luas diatas 350 meter kubik dan apartemen 150 meter kubik sudah mencapai sebesar 20%. Nah untuk tingkat dari Suku bunga rata-rata di 12 sampai 13% pada perkiraan akan meningkat menjadi 14%. 

Plus Minus Properti di Singapura 

Negara ini sudah memiliki lahan yang terbatas dan sudah tidak memiliki perkampungan tua lagi dikarenakan semuanya sudah diubah menjadi Apartemen. Kecuali di beberapa bagian Kota masih saja bisa didapat bangunan maupun apartemen lama dengan ketinggian 3 sampai 4 lantai saja. Sekitar 3 Jutaan penduduk di Singapura sudah tinggal pada Apartemen umum yang dibangun dan dijual oleh Housing Development Board HDB yang khusus dalam menyediakan public Housing. 

Angka ini bahkan sudah setara dengan 82% penduduk di Singapura tinggalnya di Public Housing yang sudah dibangun sejak tahun 1960 silam. HDB ini sudah membangun sebanyak 1 juta Flat bagi rakyatnya dan akan semakin bertambah saja dengan disesuaikannya pada kebutuhan orang-orang di sana. Harga Flat untuk rakyat ini di kisaran Rp 20 Juta sampai 35 juta per  meter kubiknya. Dengan menggunakan metode seleksi yang sangat ketat agar kiranya, tidak salah dalam target sasaran yang ada. Untuk Apartemen Komersial harganya sendiri dimulai dari Rp 100 Juta sampai 200 Juta per Meter Kubiknya. 

Mengenai perpajakan, Biaya Notaris [ Legal Fee ] , lalu adanya Biaya Taksasi [ Valuation  Fee ], bahkan adanya Premi Asuransi kebakaran umumnya sudah disubsidikan oleh Bank dengan Syarat Pembeli tidak diperkenankan melunasi kreditnya di bank dalam jangka waktu tertentu. Nah ketentuan ini bisa saja disebut dengan Clawback Period, Bila Nasabah melunasi sebelum waktunya maka diwajibkan untuk membayar seluruh biaya yang sudah disubsidikan tersebut.

Bunga Kredit yang ada d Singapura ini sangat rendah, terhitung hanya sebesar 2 hingga 3% saja dalam jangka waktu yang cukup panjang. Nah sejak tahun 2012, Otoritas Moneter Singapura sudah membatasi adanya masa Tenor Kredit pinjaman perumahan maksimalnya 35 Tahun. Masyarakat yang nantinya ingin membeli rumah juga akan diwajibkan untuk memiliki 12 kali angsuran yang akan langsung diblokir di tabungannya. Nah disini Developer yang membangun juga harus menyerahkan adanya jaminan kepada Pemerintah disana. 

Pengusaha Crown Group : Iwan Sunito 

Pria dengan kelahiran Surabaya tanggal 29 juli tahun 1966 ini sudah menjadi pengusaha Properti di Australia melalui Crown Group. Dimana Iwan sudah menghabiskan masa kecil di Pangkalan Bun, daerah Kalimantan Tengah. Iwan sendiri sudah menyelesaikan gelar Sarjana Arsitektur dan Magister Manajemen Konstruksi di UNSW. Dan pada tahun 1994 dirinya sudah memulai perusahaan Arsitekturnya sendiri dan sudah membentuk Crown Group pada tahun 1966 bersama paul Sathio. 

Disini Crown Group sudah fokus langsung pada Residensial Kelas Atas dan juga Properti Komersial. Nah Proyek Crown Group di Australia Antara lainnya adalah Waterloo – Parramatta – Sydney CBD – Eastlakes dan juga Green Square. Lalu setelah 22 tahun berbisnis di negeri orang, maka Crown Group sendiri pada akhirnya sudah mengumumkan rencana dari pembangunan proyek pertama yang ada di Indonesia. Bersama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk,  Crown Group ini akan membangun Mixed Use Development atau Residensial dan Perkantoran dengan nilai Investasinya sebesar Rp. 7 Triliun. 

Pengusaha Pollux Properties : Po Soen Kok 

Po Soen Kok ternyata sudah memulai karir bisnis pertamanya di bidang Garmen pada tahun 1980 silam. Pabrik yang berada di Ungaran , Semarang, Jawa Tengah. Lalu keluarga dari Po Soen ini memulai bisnis pada bidang Properti melalui Pollux Properti dengan proyek pertamanya yang ada di Singapura. Beberapa Proyek dari Properti Pollux sendiri adalah Park Residences Kovan ; Metro Loft ; Pavilion Square ; serta Golden Park Residence. Setelah bertahun-tahun bermain di Singapura, keluarga dari Po Soen akhirnya sudah membangun properti di Indonesia. 

Nah kota pertama yang dipilih oleh keluarga ini bukan di Kota Jakarta maupun Bali, melainkan di Semarang dengan Kota yang dulunya sudah berhasil dalam membesarkan nama usaha dari Golden Flower Group. Properti pertama dari Po Soen Kok sendiri adalah Paragon City yang terdiri langsung atas Mall dan Hotel. Proyek Kedua dari Pollux di Indonesia juga sudah berlokasikan di Semarang yakni tepatnya di Apartemen W/R Simpang Lima. setelah itu, Pollux sudah membangun banyak sekali properti di Jakarta kota lainnya. Po Soen Kok juga sudah menempatkan anaknya yang bernama Nico Purnomo Po sebagai seorang Direktur di Pollus. Selain daripada itu, Mantan Kapolri Timur Pradopo dan juga Mantan dari Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi yang bernama Bambang Widaryatmo menjadi seorang Direktur di Pollux Properties. 

Pengusaha Pontiac Land Group : Henry Kwee 

Henry Kwee sudah menjadi seorang peletak dari Pondasi Bisnis Keluarga Kwee yang mana memiliki kekayaan sekitar US$ 5,5 Miliar menurut Forbes dari situs referensi cnbcindonesia.com. Dimana keluarga konglomerat dengan kekayaan terbesar ke-7 di Singapura ini memulai bisnis Textile di Bandung Jawa Barat. Gurita Bisnis dari Keluarga Kwee juga sudah dimulai ketika dirinya bersama sang keluarga mulai bermigrasi ke Singapura pada tahun 1958. Di negara tersebut Henry Kwee, sudah merintis bisnis properti di bawah bendera Pontiac Land yang dimulai dari tahun 1959. Bisnis yang dimulai dari perusahaan arsitekturnya untuk perumahan yang kemudian bisa berkembang dengan sangat luas menjadi gedung mewah yang ada di Singapura. 

Henry Kwee sendiri sudah meninggal sejak tahun 1988 dengan kendali dari pimpinan Pontiac Land Group sudah diserahkan kepada Kwee Liong Keng dimana dirinya ini adalah anak tertua dari keluarga tersebut. Di Indonesia sendiri, perusahaan properti ini sudah melakukan penetrasi melalui anak usaha Brewin Mesa, yang mana sudah membangu The Lana, Kondominium Mewah yang tingginya setara dengan 38 Lantai di Alam Sutera, Tangerang Selatan. Nilai Investasi atas proyek ini bisa diperkirakan mencapai Rp 1,3 Triliun. Lalu terdengar kabar bahwa Evan Kwee, yakni selaku cucu dari Henry Kwee sudah menjabat menjadi direktur di Brewin Mesa. disini Evan Kwee juga sudah menjabat sebagai Direktur di pontiac Land dan Direktur Eksekutif di perusahaan Capella Hotel Group Asia.